Home / Berita Umum / Lokasi Rimba Mangrove Di Teluk Benoa Bali Banyak Sampah Kepiting Susah Berkembang

Lokasi Rimba Mangrove Di Teluk Benoa Bali Banyak Sampah Kepiting Susah Berkembang

Lokasi Rimba Mangrove Di Teluk Benoa Bali Banyak Sampah Kepiting Susah Berkembang – Lokasi rimba mangrove di Teluk Benoa, Bali rupanya tidak cuma jadi salah satunya tujuan wisata pilihan buat beberapa turis. Nyatanya banyak pula masyarakat yang mencari udang ataupun kepiting di tempat itu.

Diantaranya Wayan Kunak (64) yang sore itu tampak berendam di genangan air di lokasi mangrove. Ia tampak berjalan pelan-pelan di di air, kadang cuma kepalanya saja yang tampak menyembul di permukaan air.

“Ini kembali mencari udang, memang diraba gunakan tangan saja,” kata Wayan waktu terlibat perbincangan di lokasi mangrove, Jl By Pass Ngurah Rai, Bali, Kamis (22/11/2018) tempo hari.

Sore itu Wayan cuma mendapatkan tiga ekor udang yang disimpannya di kantong pakaiannya. Rupanya ia barusan menempatkan bubu menjadi perangkap kepiting.

“Barusan habis pasang bubu, ada 16. Besok pagi-pagi baru diambil, ini kembali iseng saja kepengin mencari udang,” terangnya.

Ia ikut menceritakan jumlahnya tangkapannya semakin hari semakin menyusut. Ia mengingat saat-saat waktu tahun 1990-an dimana satu bubu dapat memperoleh dua sampai tiga kepiting.

“Jika saat ini susah, 16 bubu optimal bisa sekilo kepiting, terkadang sempat tidak bisa. Kan yang diambil hanya yang beratnya 5-7 ons, dibawah itu tidak diambil. Jika dahulu sebelum tercemar pasang bubu 22 biji dapat bisa 30-an kepiting,” kenangnya.

“Jika tidak salah mulai tahun 1990 mulai banyak pencemaran seperti sampah, plastik, sampah garmen tangkapan telah jauh menyusut,” sambung Wayan.

Ia menjelaskan satu kg kepiting tangkapannya biasa dibeli pengepul seharga Rp 80 ribu. Kadang ia menghimpun dahulu kepiting atau udang tangkapannya sesudah banyaknya banyak baru ia jual.

Masyarakat Desa Pakraman Kepaon, Suwung Kawuh itu menjelaskan sekarang ia telah nikmati waktu pensiun. Mencari kepiting ataupun udang ia kerjakan untuk isi waktu senggang sesudah menjaga cucunya.

“Jika dahulu saya ikut nelayan cari ikan serta penghidup saya di laut. Saat ini saya telah tua pensiun ke laut menjaga cucu saja,” ceritanya sekalian mencari udang.

Wayan menjelaskan waktu air laut pasang beberapa nelayan di lokasi mangrove banyak juga yang menyewakan kapalnya untuk wisatawan. “Saat ini ada tamu, kapal-kapal ini dapat ia lancong-lancong ke laut,” katanya.

Ia ikut mengakui sepakat lokasi mangrove itu akan diatur jadi pusat studi mangrove serta taman. Ia mengharap pengaturan itu dapat jadi karunia buat masyarakat di seputar tempat itu.

“Saya sepakat, dari dahulu telah ada orang yang ingin. Jika gunakan itu kan (mangrovenya) dirawat bukan jadi rusak. Agar anak-anak miliki kerja, jika saya kan telah tua,” berharap Wayan.

Saat interviu, Wayan repot menyelam untuk mencari udang. Ia ikut menceritakan sudah sempat memarang ikan belut berukurang besar akan tetapi ikan itu sukses terlepas. Mendekati maghrib, kami berjumpa kembali di parkiran rupanya ia sukses temukan belut jumbo yang sudah sempat hilang itu.

“Mesti sabar nyarinya,” katanya sekalian tersenyum semringah serta berjalan pulang.

About admin