Home / Berita Umum / OJK Menilai Bahwa Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Masih Dalam Kondisi Terjaga

OJK Menilai Bahwa Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Masih Dalam Kondisi Terjaga

OJK Menilai Bahwa Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Masih Dalam Kondisi Terjaga – Berlanjutnya rumor perang dagang pada Amerika Serikat (AS) serta China, dan normalisasi kebijakan moneter AS serta Eropa membuat keadaan pasar keuangan global masih tetap alami ketidakpastian. Bahkan juga ketidakpastian ini turut tingkatkan desakan di pasar keuangan emerging markets, terutamanya di beberapa negara yang alami tidak seimbangan external.

Otoritas Layanan Keuangan (OJK) mensupport penuh usaha pemerintah dalam kurangi efek desakan pasar keuangan global pada perekonomian domestik. Usaha itu diantaranya penjadwalan lagi project infrastruktur non-strategis dengan content import tinggi, pemakaian biosolar (B20) , serta penambahan tarif PPh import produk mengkonsumsi.

Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK menilainya jika kestabilan bidang layanan keuangan masih juga dalam keadaan terbangun di dalam keadaan likuiditas pasar keuangan Indonesia yang masih tetap alami volatilitas karena berlanjutnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Pasar modal domestik per September 2018 terpantau masih tetap relatif konstan di dalam dinamika pasar keuangan global. Per 21 September 2018, Indeks Harga Saham Kombinasi (IHSG) mencatat pelemahan tipis sebesar 1, 0% dengan month to date (mtd) dengan investor non-residen yang menuliskan net sell sebesar Rp 2, 5 triliun. Dengan ytd, IHSG terkoreksi sebesar 6, 3% dengan investor nonresiden menuliskan net sell sebesar Rp 52, 7 triliun.

Di pasar Surat Bernilai Negara (SBN) , yield tenor periode pendek, menengah, serta panjang kembali bertambah semasing sebesar 82 bps, 22 bps, serta 42 bps mtd. Penambahan yield ini berlangsung bersamaan dengan dinamika external yang masih tetap bertambah. Sampai 21 September 2018, investor nonresiden masih tetap mencatat net buy sebesar Rp 4, 4 triliun.

Selain itu, kapasitas intermediasi bidang layanan keuangan pada Agustus 2018 pada umumnya masih tetap berjalan positif. Credit perbankan serta piutang pembiayaan semasing tumbuh sebesar 12, 12% yoy serta 5, 82% yoy, bertambah dibanding bulan awal mulanya yakni 11, 34% serta 5, 53%.

Dari bagian penghimpunan dana, Dana Pihak Ke-3 (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6, 88% yoy. Premi asuransi jiwa serta asuransi umum/reasuransi per Agustus 2018 semasing mencatat sebesar Rp 114, 8 triliun serta Rp 49, 3 triliun.

Sesaat di pasar modal, pada periode Januari sampai 21 September 2018, penghimpunan dana oleh korporasi sudah sampai Rp 130 triliun dengan emiten baru sebesar 39 perusahaan serta keseluruhan dana kelolaan investasi sebesar Rp 740, 69 triliun. Jumlahnya itu bertambah 7, 58% dibanding akhir tahun 2017.

Di dalam berlanjutnya volatilitas di pasar keuangan domestik, profile resiko instansi layanan keuangan masih tetap terbangun pada level yang manageable. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankantercatat sebesar 2, 74%. Sedang rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan ada pada level 3, 11%.

Setelah itu, pendanaan instansi layanan keuangan terdaftar pada level yang cukuplah tinggi. Capital Adequacy Ratio perbankan per Agustus 2018 terdaftar sebesar 23, 01%. Sedang Risk-Based Capital industri asuransi umum serta asuransi jiwa semasing sebesar 309% serta 434%.

Dinamika di pasar keuangan diprediksikan akan berlanjut bersamaan masih tetap tingginya downside risk di lingkup global. OJK melihat potensi bidang layanan keuangan untuk mensupport perkembangan ekonomi masih tetap terbuka, tetapi masih dengan memerhatikan prinsip kehati-hatian.

Faktor-faktor resiko sebagai perhatian salah satunya perubahan suku bunga serta likuiditas global, gejolak di pasar keuangan emerging markets, serta tekanan perang dagang.

OJK akan ambil beberapa langkah kebijakan yang dibutuhkan untuk mengawasi kestabilan bidang layanan keuangan nasional dan menguatkan pengaturan dengan lembaga-lembaga berkaitan

About admin